MANFAAT TIK BAGI PENDIDIKAN
Akhir akhir
ini perkembangan TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) sudah sedemikian
maraknya. Hampir seluruh instansi atau perusahaan memanfaatkan TIK tersebut.
Misalnya saja dalam bidang perekonomian, dapat dilakukan transfer uang antar
bank, transaksi jual beli lewat internet, dll. Dalam bidang politik, dapat
dilakukan quick count (hitung cepat pemilu) dimana data perolehan suara dikirim
melalui SMS gateway dan data diolah dengan bantuan database. Bidang pendidikan
pun tidak luput dari perkembangan TIK tersebut. Dalam tulisan ini saya akan
memaparkan gagasan yang saya miliki terkait dengan pemanfaatan TIK di bidang
pendidikan (e-education).
Menurut saya masih banyak bagian
atau porsi di bidang pendidikan yang sebenarnya dapat memanfaatkan TIK. Dari
segi pelaksanaanya. Pertama, TIK dapat digunakan untuk membantu pengajar dalam
melakukan absensi. Selama ini yang kita tahu sejak SD hingga SMA, pengajar
masih melakukan absensi secara manual, yakni dengan buku absen dan memanggil
murid secara satu persatu.Padahal hal tersebut tentunya merepotkan dan jika
dilihat dari kefektifan waktu, tentu saja ini cukup memakan waktu dan
mengurangi waktu belajar di kelas. Ide saya terkait absensi ini adalah tiap
murid dapat secara praktis melakukan absensi dengan menempelkan jari mereka
pada suatu instrumen TIK dan data absensi langsung masuk ke database. Data
absensi juga bisa diekses secara online oleh orang tua murid yang ingin
mengetahui perkembangan anaknya di sekolah, entah melalui situs sekolah maupun
SMS gateway.
Kedua,TIK dapat diterapkan dalam
mencatat nilai siswa dan mem-publish-nya. Selama ini guru mencatat nilai siswa
secara manual. Untuk nilai ulangan harian, nilai UTS maupun nilai UAS. Setelah
itu guru tersebut menghitung rata-ratanya keseluruhan sebagai nilai akhir.Tentunya
akan lebih bijak jika kita mengurangi beban guru dengan membiarkan teknologi
yang bekerja sehingga guru hanya perlu memasukkan nilai tersebut ke suatu
instrumen TIK dan instrumen tersebut yang akan mengolah nilai akhir sehingga
kesalahan akibat perhitungan manusia akan berkurang dan guru akan lebih nyaman
dalam bekerja. Selain itu nilai yang sudah dimasukkan dapat langsung di-publish
melalui situs sekolah sehingga semua proses penghitungan nilai siswa dapat
diolah secara transparan. Siswa juga dapat melihat nilainya kapan saja dan
dimana saja.
Ketiga,TIK dapat diterapkan dalam
meletakkan modul pembelajaran. Hal ini dapat menjadi salah satu solusi akan
mahalnya buku-buku cetak di Indonesia. Biasanya guru hanya menjelaskan materi
di papan tulis dan sumber utamanya tetaplah buku cetak yang harganya mahal dan
belum tentu semua materi di dalamnya akan dipelajari oleh siswa.
Sebelum saya kuliah di Fakultas Ilmu
Komputer UI, saya belum pernah mengalami suatu pembelajaran dimana modul yang
saya pelajari pada perkuliahan diletakkan pada suatu wadah dan wadah tersebut
juga memungkinkan saya untuk berdiskusi dengan teman maupun pengajar,
mengumpulkan tugas, melihat informasi seputar perkuliahan, dll. Wadah tersebut
tidak lain adalah Scele. Saya mengharapkan implementasi seperti Scele ini juga
bisa diterapkan kepada institusi lain, paling tidak mulai dari SMP atau SMA.
Karena yang saya tahu untuk fakultas di Universitas Indonesia sendiri baru
Fakultas Ilmu Komputer yang menerapkan metode pembelajaran seperti ini.
Keempat,TIK dapat memberikan
wadah bagi suatu institusi untuk bekerja sama dengan institusi lain untuk
sharing resource. Misalnya Universitas Indonesia dapat bekerja sama dengan
universitas lain misalnya Nanyang University di Singapura. Jadi mahasiswa UI
dapat mempelajari modul yang diajarkan di Nanyang dan mengikuti forum
diskusinya tanpa harus jauh-jauh kuliah di Nanyang. Hal ini akan meningkatkan
kualitas mahassiwa UI karena wawasannya bertambah. Harapannya adalah kita bisa
memiliki mahasiswa UI yang berkualitas Nanyang. Sedangkan bagi Nanyang sendiri
mereka juga akan memiliki wawasan mengenai bagaimana perkuliahan di Indonesia.
Saya meyakini bahwa semua gagasan di
atas akan percuma saja bila cost untuk memanfaatkan TIK itu sendiri sangat
tinggi dan infrastruktur IT belum tersebar merata. Cost yang dimaksud antara
lain cost untuk mengakses internet, cost untuk SMS gateway, dll. Cost yang
tinggi akan menjadi kendala utama karena percuma saja teknologi yang super
canggih telah dibangun akan tetapi pengguna atau peminat dari teknologi
tersebut tidak ada.
Jika dibandingkan dengan negara lain
yaitu India, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina, cost budget internet
di Indonesia adalah yang termahal. Di Singapura, pemerintah Singapura sudah
berani untuk menggratiskan setiap warganya untuk menggunakan internet brodband
dengan kecepatan 1Gbps selama setahun. Dibandingkan dengan India pun, cost
budget Internet di Indonesia lebih mahal 54 kali dibandingkan cost budget yang
dibutuhkan masyarakat India untuk dapat mengakses internet. Jadi disini perlu
kerja sama yang sangat baik antara pemerintah dengan institusi lain terkait
dengan TIK agar dapat mengusahakan cost yang rendah dalam pemanfaatan TIK.
Upaya yang dapat dilakukan antara lain menambah anggaran pemerintah terhadap
pendidikan, kerja sama antara pemerintah dengan ISP di Indonesia.
Pemanfaatan TIK pada bidang
pendidikan ini tentunya memerlukan pengawasan dari pihak-pihak tertentu
sehingga dalam pelaksanaannya tidak disalahgunakan. Misalnya saja jangan sampai
penggunaan internet justru digunakan untuk bermain games, melihat situs porno,
melihat berita yang kurang penting (seperti gosip), dll.
Hal tersebut bisa diantisipasi
dengan memblock situs-situs yang membahayakan dan melakukan pengawasan secara
langsung di lapangan. Selain itu banyak content yang disediakan di internet menggunakan
bahasa Inggris. Akibatnya adalah siswa harus meningkatkan skill mereka dalam
bahasa Inggris agar dapat memahami dengan baik informasi yang disampaikan pada
situs tersebut.